Author Archives: Tajid Yakub

Keseimbangan, Iwan Fals ke Kampus

Comments Off

Jejak Vol 3/1, Maret 2010

Halo Jejakers!!!

Nggak bisa kita pungkiri lagi kalo banjir emang udah seperti jadi ‘langganan’ buat warga ibukota. Penyebab dan akibatnya pasti udah kita ketahui semua. Justru yang agak mengherankan sekarang, siklus banjir 5 tahunan yang dalam satu dekade terakhir jadi bahan pembicaraan mulai berganti menjadi siklus banjir tahunan. Buat warga ibukota yang tinggal di pesisir pantai utara, bukan banjir jenis demikian yang rutin jadi ‘langganan’. Bukan banjir pembawa air tawar yang menyambangi mereka. Tapi, banjir hasil pasang air laut atau akrab dikenal dengan istilah banjir rob yang rutin datang berkunjung. Yap, sedikit terdengar asing emang buat sebagian dari kita yang nggak tinggal di wilayah utara Jakarta.
(more…)

8 Comments

Majalah Jejak Vol 2/3, November 2009

Halo Jejakers!!!

Belum lama ini, saya sempat mengunjungi Sungai Ciliwung yang letaknya enggak jauh dari rumah saya di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Bagi saya, kondisinya tetap seperti dulu. Enggak ada perubahan sama sekali. Di bantaran sungai, sampah dari berbagai jenis menumpuk. Bangunan semi permanen berjejer mengikuti kelokan-kelokan sungai. Sementara itu, penduduk sekitar dengan rakit ala kadarnya, sibuk melemparkan jaring-jaring mereka berharap mendapat tangkapan ikan yang besar di tengah keruhnya air sungai.

Melihat kenyataan ini, sempat terlintas di pikiran saya bahwa Program Kali Bersih (PROKASIH) yang dilaksanakan pemerintah sejak tahun 1990 hingga sekarang dengan berbagai modifikasinya, sama sekali nihil hasilnya. Data dari Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) tahun 2004-2006 yang menyatakan bahwa kualitas air di 9 sungai membaik, dimana salah satunya adalah Sungai Ciliwung, pun ibarat isapan jempol semata.

Pikiran selintas itu mulai berubah ketika satu waktu ketika seorang teman menunjukan film pendek hasil karya teman-teman dari Dewan Anak Ciliwung (D’acil), sekelompok orang yang sangat peduli terhadap parahnya kondisi Sungai Ciliwung, sederhananya begitu. “Kita juga harus menjaga Ciliwung!!!”, begitu kira-kira pesan moral yang saya dapat.

Yap, bener banget tuh. Selama ini, pemerintahlah yang selalu menjadi kambing hitam terhadap buruknya kualitas air sungai. Kita sendiri, yang sering berhadapan langsung dengan ‘isi sungai’, hanya bisa memalingkan badan terhadap kondisi yang ada.

Parahnya kondisi Sungai Ciliwung ibarat menjadi gambaran umum dari 12 sungai lainnya yang mengalir di ibukota tercinta. Kalo engga segera dilakukan penanganan yang baik dan berkelanjutan, maka kondisi yang buruk ini akan menjadi pemandangan yang lumrah di hari-hari depan. Kita semua pasti enggak mau seperti ini kan?

Oke deh, selamat menJejakkan kaki di langkah yang ke-5 yah

PRIHANDOKO

Majalah Jejak Vol. 2/3 November 2009 Versi PDF dapat di download disini (Klik Kanan dan Save As)

1 Comment